Currently reading: The Unwritten Rules of PhD Research, Second Edition

I recently bought a PhD preparation book before I start a new journey as a research assistant in Germany. The title of the book is The Unwritten Rules of PhD Research, Second Edition” by Marian Petre and Gordon Rugg.

This book is actually pretty old, owing to the fact that it was first published in 2004! But I think the information is still relatable to today’s society. Please note that this book was written based on the UK education system, therefore, many of its contents are based on the UK system.

This book includes the very first things we need to know as a PhD student, including the definition of PhD, the skills required to be a good PhD student, the type of PhD, type of supervisors, the networking, the writing skills, conferences, publications, and even things that you should do after you finish your PhD. They are all covered in 17 chapters, written in a casual way hence it is easier to understand.

I am currently going into chapter 4, but I have learned so many things that I have to prepare before I start my PhD journey. Hopefully, I can finish it this month so that I can focus on the research topic after this.

Anyway, this book is of course only capable of giving us information and it is not the one who will train us throughout the PhD life. But at least it can guide us a bit during our survival game in the PhD Jungle for several years.

5 Tips Mendapatkan IELTS Overall Band Score 7+ Tanpa Les

Sedikit intro tentang pengalaman dan perjuangan test IELTS pertama dan kedua saya. Silakan skip ke tips langsung jika buru-buru karena intronya panjang 😄

Halo teman-teman semuanya!

Kali ini aku akan membahas sedikit tentang cara mendapatkan nilai IELTS dengan overall band score di atas 7. Tips ini disesuaikan dengan cara belajar saya, di mana saya kalau ujian biasanya nyiapin dari jauh-jauh hari dan ngga pakai les (mahal atuh, hahaha). Saat IELTS pertama saya (2015), saya otodidak selama 6 bulan, sedangkan untuk IELTS kedua (2020), saya belajar selama 1 bulan. Kenapa jauh banget bedanya? Karena yg pertama adalah IELTS pertama saya dan saya waktu itu bayar pakai tabungan hasil beasiswa, jadi takut banget kalau jelek hahaha (walaupun pada akhirnya setelah hasil ujian keluar, saya tetap diganti orang tua saya).

Sedikit cerita tentang IELTS pertama saya, waktu itu saya punya target skor. Target skor saya tinggi dibandingkan teman-teman saya dan ada yg komentar kalau itu terlalu tinggi. Waktu itu saya ngga menyerah. Saya usahakan sebaik mungkin, nanti urusan hasil Allah yg menentukan. Saya berharap bisa dapet skor impian saya, tapi semisal dapat lebih rendah juga sudah alhamdulillah.

Selama 6 bulan, saya belajar bahasa inggris. Dimulai dari ngobrol bahasa inggris dengan teman, bikin skripsi pake bahasa inggris (dan presentasi jg bahasa inggris), nonton serial barat tanpa subtitle, baca apapun dalam bahasa inggris (misal buku kuliah, artikel, dsb), dan banyak hal lain. Yang jelas saya inggris aja terus supaya terbiasa. Lalu sebulan sebelum ujian, saya siapkan mock test IELTS dan mengerjakan 4 test dalam seminggu. Seminggu sebelum ujian, saya mock test hampir tiap hari. Saya waktu itu anxious banget ya karena ini baru pertama kali, tapi alhamdulillah pas ujian ngga terlalu panik (speaking sm listening agak panik sih, hahaha). Waktu itu saya cuma pasrah, gimana pun hasilnya saya sudah usahakan yg terbaik.

Lalu di hari pengumuman, saya anxious setengah mati. Takut banget dapet jelek, padahal IELTS ini kan mau dipakai untuk daftar beasiswa jadi ngga boleh dibawah 6. Saya keringet dingin dengan tangan bergetar pas berusaha buka hasilnya.

Hasilnya berhasil terbuka, dan saya waktu itu langsung nangis. Karena alhamdulillah banget, atas ijin Allah SWT, saya dapat sesuai dengan harapan saya yg idealis itu. Saya langsung telpon ibu saya sambil nangis dan bilang kalau nilai impian saya tercapai. Ibu saya udah panik karena saya nelpon hampir jam 12 malam sambil nangis, hanya untuk mengetahui bahwa anaknya nangis bahagia, hahaha.

Seorang anak mahasiswa S1 yg ngga punya penghasilan dan hanya berpegang dari saku orang tua serta beasiswa kecil, uang 3 juta itu susah ngumpulinnya. Ngga tau deh waktu itu berapa lama saya nabung sampe rela ngga ganti hp yg udah butut dan makan ngirit-ngirit. Banyak orang yg merasa takut juga ambil IELTS karena biayanya mahal. Saya juga gitu, saya takut tabungan saya terbuang percuma kalau nilainya jelek. Tapi saya sadar, ini demi kebaikan saya juga, karena beasiswa biasanya butuh nilai IELTS. Jadi ya mau ngga mau saya harus korbanin tabungan saya itu. Lalu, ketika perjuangan saya membuahkan hasil yg sesuai dengan harapan saya, saya menangis dan bersyukur banget karena Allah Mungkin ini berkat doa dari Ibu saya, atau doa orang-orang lain, yg jelas saya merasa bahagia banget karena perjuangan saya saat itu ngga sia-sia. Alhamdulillah.

Sama halnya dengan IELTS pertama, di IELTS kedua ini saya punya harapan yg lebih tinggi daripada IELTS pertama. Tapi saya ngerasa saya kurang berusaha, baru belajar satu bulan sebelum ujian, itu aja pake ngelokro, hehehe. Maklum lah sudah IELTS kedua sekarang jadi udah tau gimana rasanya test IELTS. Tapi karena kurangnya perjuangan, saya menjadi cemas kalau hasilnya ngga bagus. Akhirnya saya hanya bisa berharap supaya nilainya ngga dibawah IELTS pertama. Alhamdulillah, dapet overall band score sama persis sama IELTS pertama 😂 Walaupun agak sedih karena merasa saya ngga ada peningkatan, saya bersyukur banget tetep dapet nilai segitu. Sempet ngerasa juga bahwa manusia itu memang kurang bersyukur, karena saya sudah berdoa, “Yang penting ngga dibawah IELTS pertama.” tapi ujung-ujungnya tetep sedih karena ngga ada kenaikan, hahaha dasar manusia memang 🙄

Anyway, ngga usah berlama-lama lagi, saya akan paparkan sedikit tips untuk dapat nilai IELTS 7+ tanpa les. Semoga bisa diaplikasikan ke teman-teman juga ya.

Tampilan beranda website edX

1 Ikuti Online Course di edX.com

EDX merupakan online course mirip Khan Academy namun ia lebih ke pelajaran-pelajaran tingkat universitas dan graduate. Saya sering banget belajar dari sini karena bisa belajar dari universitas terkenal di dunia seperti MIT, EPFL, dan UQ dengan gratis.

Untuk IELTS kedua kemarin, saya belajar dari sini dan merasakan khasiat yg luar biasa. Tips nya pro banget, mirip dengan kalau kalian ambil les. Kenapa saya bisa membandingkan padahal saya ngga les IELTS? Kebetulan ada teman saya yg ambil les dan sahabat saya ini berbaik hati meminjamkan materi kepada saya (walaupun pas itu udah 1 minggu sebelum ujian). Saya skim materinya dan ternyata memang mirip dengan edX, tapi tentu saya lebih lengkap materi dari les teman saya itu.

Tapi menurut saya, kualitas dari learning course di edX ini bener-bener bagus mengingat kita ngga perlu bayar sepeserpun dan bisa belajar dari rumah aja. Fitur-fiturnya juga oke, jadi saat speaking section kita akan diberikan recorder dan pre-recorded question, lalu kita akan jawab sesuai dengan saat ujian. Untuk writing juga kita bisa mendapatkan review dari teman-teman yg juga ambil kelas itu. Tips and trick untuk reading dan listening juga top notch. Latihan soalnya juga dibuat se-interaktif mungkin, membuat belajar kita lebih asik. Saya sampai merasa menyesal kok di tahun 2015 saya ngga nonton ini hahaha.

Anyway, this is a must kalau kalian mau ambil IELTS ya. Kelas berikutnya dibuka Februari 2020, jangan sampai kelewatan. Untuk link nya, silakan sign up atau sign in di EDX lalu klik link ini. Atau bisa juga di search coursenya dengan keyword IELTS Academic Test Preparation.

Selain edX, saya juga merekomendasikan kelas dari futurelearns. Kalau dari futurelearns, kelasnya lebih pasif dibanding edX karena di situs ini mayoritas hanya mendengarkan lecture. Tapi materinya ngga kalah dari edX, jadi patut dicoba juga.

2 Gunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari

Terdengar klise, tp sejujurnya ini memang penting. Di poin kedua ini intinya adalah kita harus membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris, entah membaca buku, menonton YouTube/film, mencari resep, menulis journal atau diary, taking notes, dan sebagainya. Saat kita terbiasa menggunakan bahasa Inggris, tentunya vocabulary kita akan lebih beragam dan kita sadar saat ada spelling yg salah. Ngga hanya itu, kita juga akan lebih terbiasa dengan berbagai macam tenses dan bisa menggunakan tenses yg sesuai saat speaking maupun writing. Reading dan listening kita juga akan lebih baik karena terbiasa mengolah sumber dari bahasa Inggris.

3 Cari sample jawaban sesuai dengan band score yg kamu inginkan

Sebelum ujian IELTS, kita wajib punya target score. Target score ini bisa target per section atau overall band score. Kalau saya biasanya bikin target dua-duanya, jadi misalnya seperti ini: band score minimal 7, Lalu persection tidak boleh di bawah 6. Saat kita punya tujuan, kita jadi lebih termotivasi untuk mencapai tujuan itu. Jadi lebih baik selalu punya goal sebelum memulai sesuatu. Nah goal Ini digunakan untuk tips ketiga ini, dimana kamu bisa cari sample jawaban orang-orang yg mendapat band score sesuai keinginan kamu. Contoh queries nya bisa seperti ini:

IELTS writing band score 7, IELTS speaking band score 7. Banyak banget contoh-contoh dari hasil pencarian google ataupun YouTube. Coba dipelajari dan di-recite sehingga terbiasa. Beberapa sample juga menunjukkan kenapa mereka bisa mendapat band score sekian. Bagian tersebut juga lebih baik untuk dibaca supaya lebih paham kriteria yg diperlukan untuk mendapat band score tertentu.

4 Ketahui assessment criteria

Speaking dan writing sections di IELTS mempunyai kriteria masing-masing dalam penilaian. Sebagai contoh, lexical resources, task response, coherence itu ada di writing, sedangkan fluency, pronunciation, grammar and tenses ada di speaking. Dengan mengetahui penilaian ini, kita akan tahu di bagian apa kita harus lebih berhati-hati. Semisal saat kita berbicara, apakah kita sering menggunakan tenses yg salah (harusnya present tapi bilangnya past). Hal ini termasuk fatal karena bisa mengubah makna ucapan kita. Setelah mengetahui kriteria penilaian, kita bisa menilai diri kita sendiri berdasarkan standar yg ditetapkan IELTS.

5 Latihan mengerjakan soal IELTS dengan serius (mock test)

Yang saya maksud serius di sini adalah atmosfer saat mengerjakan mock test haruslah disesuaikan dengan saat ujian sesungguhnya. Jadi, usahakan tidak mengulang listening walaupun terlewatkan, tidak menambah ataupun mengurangi durasi sub test (jadi walaupun writing sudah selesai tapi waktu masih tersisa, tetaplah fokus pada essay Anda), dan saat speaking pun minta tolong orang lain untuk menjadi interviewer Anda.

Usahakan pula kondisi sekeliling Anda dalam keadaan tenang seperti ujian. Siapkan soal listening beforehand sehingga proses listening bisa lancar. Intinya, sebisa mungkin Anda harus terbiasa mengerjakan soal IELTS sesuai dengan keadaan yg akan Anda hadapi.

Untuk banyaknya soal mock test yg harus dikerjakan, saya tidak bisa menentukan angka karena masing-masing individu mempunyai standar yg berbeda. Namun, saya sendiri membuat jadwal dalam 2 minggu sebelum ujian agar setiap harinya saya bisa mengerjakan 1 set mock test, mencangkup reading, listening, dan writing, kemudian untuk speaking biasanya saya gabungkan karena harus menyesuaikan jadwal orang yg saya mintai tolong.

Kemudian, 1 minggu sebelum ujian sesungguhnya, lakukanlah simulasi IELTS di lembaga study yg terpercaya untuk melihat apakah kita sudah bisa memperoleh angka yg kita inginkan. Sehingga, 1 minggu sebelum ujian kita bisa menentukan untuk menambah jam belajar kita atau mengikuti pace yg sebelumnya.

semoga sedikit cerita dan tips ini bisa membantu kalian yg ingin memperoleh nilai IELTS yg bagus tanpa harus mengambil kelas bimbingan. Tentu saja ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan dari mata seseorang coach IELTS, maka dari itu bisa disesuaikan dengan individu masing-masing. Semoga membantu!

Solo, 13 Juli 2020