Pengumuman dan Info Interview


Halo,

 

Mohon maaf, dikarenakan kesibukan untuk persiapan ujian TOPIK, saya sementara tidak bisa membalas email maupun komen dengan cepat. Mohon pengertiannya 🙂

 

Untuk yg kemarin sudah mendaftar KGSP, semoga sukses dalam aplikasinya, dan sampai berjumpa di Korea!

 

Tambahan: dikarenakan banyak pertanyaan mengenai waktu pengumuman interview, saya akan menjelaskan sedikit tentang hal tersebut.

Sewaktu periode saya dulu, saya diberi kabar via telepon dan email bahwa lolos seleksi tahap pertama pada bulan Maret tanggal 14. Dalam emailnya juga disebutkan bahwa saya harus menghadiri interview pada tanggal 17 Maret 2016. Sewaktu itu saya mendapat kloter pagi, dari jam 9-12 dan harus datang jam 8. Jadwal interview akan diberikan saat sampai di embassy.

Good luck semuanya!

KGSP: Pengalaman Pribadi

Halo pemburu beasiswa! Akhirnya aku ada kesempatan (dan keinginan) untuk menuliskan pengalaman selama mengajukan beasiswa KGSP nih. Sebenernya udah banyak artikel yang membahas mengenai tata cara pendaftaran KGSP, tapi demi memberikan gambaran selengkap mungkin bagi para pemburu beasiswa, aku ingin memberikan secuplik pengalaman selama mendaftar. FYI, artikel yang ini fokus pada pengalaman pribadi, dan bukan berisi informasi mengenai tata cara pendaftaran dsb. InsyaAllah artikel lain segera menyusul 🙂

Periode Pendaftaran

Sedikit cerita, setelah lulus pada bulan November 2015, aku buru-buru memfokuskan diri untuk mendaftar beasiswa. Tujuan utama saya adalah Jerman, luasannya adalah Eropa. Maka dari itu saya mendaftar beasiswa Action 1 Erasmus+ di 3 konsorsium berbeda (akan segera ditulis).

Pada akhir Februari itu, aku menunggu wawancara dari konsorsium FAME yang udah dijadwalkan seminggu sebelumnya. Namun, satu jam setelah waktu janjian, interviewer belum menghubungi via Skype. Dengan galau, aku pikir beliau membatalkan secara spihak (fyi, interview sudah gagal 2x karena cuaca buruk di Perancis).

Karena timbul perasaan “kepepet” dan ngebet tahun 2016 harus berangkat master, aku langsung ngebut membuat aplikasi utk KGSP. Beasiswa ini udah sempat di-list tahun lalu, tapi terpikir untuk mendaftar setelah insiden wawancara yg gagal. Walhasil dengan waktu yg mepet sekitar 1,5 minggu dari deadline, saya langsung cus nyiapin semua dokumen. Alhamdulillah karena sudah 3x apply beasiswa, dokumen saya langsung lengkap dan menulis motivasi, rencana studi, dkk saya selesaikan dalam 3-5 jam (pakai template beasiswa sebelumnya :p).

Banyak orang yg persiapannya matang bisa memilih antara mendaftar melalui Univ atau Embassy Track. Waktu itu aku langsung ambil embassy karena belum sempat kontak dengan prof di Korea, dan waktu yg tidak cukup untuk mengirim dokumen. Selain itu di Embassy track, pendaftar bs memilih hingga 3 univ, yg berarti peluang diterima lebih besar. Berkas kemudian aku kirim ke Embassy di Jakarta setelah mendapat surat rekomendasi dari supervisor saya di Jogja sekitar awal Maret 2016. Sisanya tinggal menunggu hasil apakah diundang untuk wawancara di Embassy.

Sekitar 1 bulan kemudian saat saya sedang di Sekretariat SBC (sbg volunteer), Ms. Lee dari embassy menelpon saya dan memberikan undangan wawancara seminggu kemudian. Ia mengingatkan untuk membawa beberapa berkas yang dirasa kurang saat administrasi (dokumen wajib dicap notaris dan diterjemahkan tersumpah). Alhasil saya langsung memesan tiket kereta sebelum harganya semakin mahal, hahaha.

Proses wawancara

Selama perjalanan Solo – Jakarta, saya latihan wawancara dengan sahabat saya yg turut menemani ke Jakarta. Salah satu pertanyaan yang diajukannya adalah: “Mengapa mendaftar KGSP padahal sebelumnya kamu les bhs jerman dan mendaftar beasiswa ke Eropa?

Jawabanku saat itu agak belepotan. Kemudian dibantu teman saya, kami sampai pada suatu jawaban:”Asal negara tersebut mendukung penuh perkembangan science dan teknologi, maka saya sangat willing untuk melanjutkan master disana.”

Demi tiket murah, kami sampai di Stasiun PSE pada pkl. 1 am. Saya pikir kami bisa menunggu dan bersiap-siap di Sta. PSE, tapi kenyataannya adalah banyak orang berpikiran sama! Ya ampun, saat itu sangat ramai hingga kami bingung mencari tempat kosong. Lebih buruknya, kamar mandi baru dibuka jam 4 pagi. Namun alhamdulillah, ada seorang nenek memberikan sebagian korannya untuk kami, jadi 2 jam akhirnya ngemper di depan alfamart PSE. Akibat ngantuk tak tertahankan, akhirnya kami keluar dr stasiun dan pindah ke Dunkin Donut.

Sesampainya di depan Embassy (naik GrabCar dan kena tilang karena nerabas jalan verboden), saya dan teman saya segera berjalan ke pos satpam. Tiba-tiba sahabat saya diusir keluar dan tidak boleh masuk! “Gila, terus dia nunggu dimana dong ya ampun!” hanya itu yg terbesit dipikiran saya, hahaha. Untungnya dia punya semacam headquarter-nya shg saya bisa wawancara dengan sedikit tenang. Jadi buat kalian yg sampai tahap wawancara, jangan bawa teman ke embassy yaa.

Sewaktu masuk ke ruangan tunggu, sudah ada 4 orang lain di dalam; ada yang pendiam, ada yg cheerful, ada yg pemalu, ada yg kayak putri Solo (suaranya lembuut banget). Kami bergiliran untuk mengenalkan diri dan saling share mengenai Korea. Total di ruangan ada 18 orang untuk kloter pagi, dan 12 orang di kloter siang. Keseluruhan pendaftar jalur ini adalah 479 orang (dilihat dari website embassy).

Singkat cerita, nama saya dipanggil setelah sekian lama (urutan 16 atau 17). Proses interview untuk saya dalam bahasa inggris. Namun beberapa teman ada yang ditanyakan dalam English+Indo, English+Indo+Korea, Indo saja, dan bahkan Korea saja. Jadi jika kalian sudah punya kemampuan bahasa korea, besar kemungkinan untuk ditanya dalam bahasa korea. Untuk kemampuan bahasa ini, sangat disarankan untuk menguasai speaking bahasa inggris dengan baik.

Berikut adalah cuplikan pembicaraan yang saya ingat di dalam ruang wawancara:

  1. Interviewer (3 orang) memperkenalkan diri, dan sedikit berbasa-basi mengenai diri saya. Waktu itu salah seorang bilang: “Wajahmu sangat familiar, apakah kita pernah bertemu?” yah intinya, mereka mencairkan suasana supaya saya tidak tegang. Jarak meja sekitar 3 m, dan meja diletakkan di depan interviewer. Jd seluruh postur saat wawancara akan terlihat.
  2. Pertanyaan inti langsung ditanyakan begitu selesai basa-basi. Seorang langsung menanyai saya:”Wah, univ yang kamu daftar bagus-bagus. Tapi kenapa kamu ambil material science?” jadi yg harus dipersiapkan adalah alasan major yg kalian ambil. Jujur aja, ngga perlu bertele-tele untuk mengembangkan indonesia kalo memang bukan itu alasan kalian. Waktu itu aku jawab intinya krn passion thdp perkembangan ilmu material. Jawabanku saat itu tidak terlalu mengesankan, ekspresi wajah mereka terlihat tidak tertarik, hahaha.
  3. Pertanyaan selanjutnya:”kamu dulu dari Kimia, kenapa pindah ke material?” yak, ini adalah pertanyaan umum untuk pendaftar yang cross-major, jadi harus dipersiapkan baik-baik. Intinya aku jawab kalau memang dari awal kuliah saya ambil minat material chemistry, jadi dibilang cross juga engga, karena materi kuliahnya sama. Bahkan UG thesis saya mengenai material chemistry.” Mereka angguk-angguk aja.
  4. “Kamu tau, aku sangat tertarik dengan study plan kamu yang sangat berbeda dari pendaftar lain. Kamu jujur mengutarakan ini itu, dan tidak menuliskan untuk bekerja sebagai A, ataupun menyebutkan untuk mengabdi pada negaramu.” Waktu itu aku mau jawab, tapi beliau lanjut ngomong lagi.

“Well, ini bukan berarti kami tidak terima krn study-planmu sangat berbeda. Bahkan kami sangat apresiasi perbedaan pemikiran ini, sangat unik. Coba tolong ceritakan mengapa kamu ingin menjadi B, dan bukan A? Ingat, menolak menjadi A tidak akan membuatmu gagal.”

Untuk pertanyaan ini, saya menjawab: Saya ingin mencicipi dunia profesional. Karena saat di dunia perkuliahan, mahasiswa hanya dihadapkan pada hal teoritis (seperti yg saya alami selama di UG) yang mana sangat tidak realistis. Kehidupan di dunia kerja sangatlah berbeda, sehingga saya juga ingin hidup dalam realitas, dan bukan teori belaka.

“Ya, aku paham itu. Jadi intinya kamu ingin bangun dan merasakan realitas yang terjadi sesungguhnya, dan bukan hanya teori?”

Tepat sekali, saya ingin memiliki lebih banyak pengalaman terlebih dahulu saat menjadi B, dan caranya adalah dengan bekerja di X, Y, atau Z. tapi ini bukan berarti saya tidak ingin mengabdi ke Indonesia. Beberapa tahun setelah mencari pengalaman, saya akan kembali ke Indonesia dan mengabdikan diri. Karena saya telah belajar secara profesional (bukan hanya teori), akan lebih mudah bagi saya untuk menerapkannya di Indonesia.

Jawaban saya ini membuat interviewer senyum-senyum :p

  1. Pertanyaan selanjutnya:”Kamu sudah pernah ke negara mana aja?”

Jawabanku:”tahun 2009, saya mengikuti semacam Youth Science Jamboree di Singapore. Di sana saya dikenalkan pada dunia science, seperti mengunjungi Museum The Body World, Waste Water Management milik Singapore, dan juga Science Center Museum. Hal lain seperti ke Sentosa Island dan menonton Song of the Sea, hehehe.” Penanya-nya ikutan ketawa.

“yang kedua, bulan agustus tahun lalu, saya diajak oleh dosen saya untuk presentasi poster di Australia, conference-nya bernama IMMS 9. Saya mempresentasikan karya tugas akhir saya, dan semuanya disupport oleh supervisor.”

  1. “Apakah sedang atau sudah mendaftar beasiswa lain?”

Jawabanku: saya telah mendaftar beasiswa Erasmus Mundus untuk ke Eropa. (lalu penjelasan sedikit mengenai konsorsium). Namun saya tidak diterima di beasiswa tersebut. Hehe

“It’s no problem. Tapi sebenarnya kamu mau kemana? Kayaknya kamu pengen ke eropa ya? Kenapa malah daftar ini?”

Jawabanku: saya tidak pernah membatasi negara mana yang saya tuju. Asalkan negara tersebut mendukung tinggi perkembangan sains dan teknologi, maka saya akan belajar di situ. Jadi mau itu di Jerman, di US, maupun di Korea, itu akan sama saja karena semuanya sangat supportive terhadap sains dan teknologi.

  1. Penutup: interviewer bilang padaku:”Oke, jadi intinya kamu mau melanjutkan master di materials Science di negara manapun yg supportive ya? Oke, InsyaAllah.”

Waktu itu aku bingung karena pengucapan insyaAllah nya tidak sejelas orang indonesia. Kalo ada yg pernah lihat DoTS dimana Joongki bilang InsyaAllah, nah itu sama persis. Akhirnya interviewer yg dari indo membetulkan pengucapan dan semuanya ketawa, gitu. Hahaha.

Wawancara berlangsung cepat, sekitar 30 – 60 menit. Saat itu aku diinterview selama 45 menit, tapi rasanya seperti 10 menit karena interviewer supportive dan easy-going (bahkan ke semua pendaftar). Untuk cara menjawab, usahakan selalu yakin dan menatap mata interviewer. Saat pertanyaan pertama, aku agak kaget krn sangat to the point, jadi terlihat nggak meyakinkan. Apapun jawaban kalian tidak ada yg salah, jadi pede aja 🙂

List pertanyaan yang diatas sepertinya belum lengkap, tapi InsyaAllah semua pertanyaan penting sudah disebutkan. Ini adalah beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada teman-teman saya:

  1. Mengapa memilih Korea?
  2. Mengapa pilih Univ A, B, dan C?
  3. Mengapa ingin berprofesi jadi A?
  4. Bagaimana pendapatmu tentang TKI di Korea?
  5. Apa yang mau kamu berikan ke Indonesia?
  6. Hidup di Korea itu berat lho. Kamu yakin bisa bertahan disana? Bagaimana?
  7. Apa yang kamu lakukan setelah lulus?

 

Terima kasih telah membaca 🙂