7-days of My Life in South Korea: MONDAY was a Dreadful Day

Halo semuanya, kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman tentang bagaimana saya menjalani hari-hari selama saya menempuh program master di Seoul National University. Artikel kali ini mengenai pengalaman lab meeting pada hari senin.

Saya di sini membahas fakta yg terjadi di lapangan, dan hal yg umum diketahui di masyarakat Korea. Saya membuat artikel ini bukan  untuk menjelekkan atau membanding-bandingkan sistem di Indonesia dan di Korea, tapi saya hanya ingin berbagi dari sudut pandang seorang hasiswa international yg pernah menjalani kehidupan Master di Korea Selatan.

Saya sangat appreciate supervisor saya di Korea, dan dari beliau saya belajar banyak hal. Saya bahkan meneteskan air mata saat menuliskan surat terakhir untuk beliau sebelum kepulangan saya ke Indonesia. Jadi artikel ini tidak ada maksud untuk mengkritisi beliau, tapi hanya untuk share pengalaman saja.

Okay, so without any further ado, I’ll start the first chapter of the 7-days of my life in South Korea, starting from MONDAY!

Photo by Toa Heftiba

Monday was the report day. We had to send a weekly report to my supervisor before 8 am. If we were ‘lucky’, there would also be a whole laboratory meeting on this day.

Senin merupakan hari yang biasanya menjadi momok untuk sebagian besar orang, dikarenakan ketidaksiapan menghadapi 5 hari kedepan sampai akhir minggu kembali datang.

Bagi saya, hari senin sama saja seperti hari lain, tidak ada bedanya.

Yang berbeda hanyalah keharusan saya dan teman-teman lab untuk mengumpulkan laporan mingguan (weekly report). Weekly report ini berisi progress selama satu minggu penuh, yang umumnya berisi experiment results and some literature review.

Weekly report ini biasanya sudah diselesaikan dan dikirimkan pada hari Jumat-Minggu. Sehingga wajar saja kalau hari Senin bukanlah hari yang istimewa bagi kami apabila dibandingkan dengan hari-hari yang lain.

Kecuali…

Kecuali jika ada notifikasi group laboratory di Kakaotalk kami.

Satu kata untuk notifikasi group laboratory: menakutkan.

Saya ngga bercanda.

Selama saya di Korea, dua hal yang paling saya takutkan adalah notifikasi di group laboratory dan kedatangan email dari supervisor.

Kedua ketakutan ini mengalahkan ketakutan akan Korea Utara melemparkan bom nuklir Korea Selatan.

Hal ini dikarenakan, Prof saya terkadang ingin mengadakan laboratory meeting secara mendadak pada hari Senin.

Lab meeting di Korea bukan sesuatu yg kecil, karena kita diharuskan untuk mempresentasikan hasil kita di depan lab member, dan juga di depan supervisor kita.

Alangkah bahagianya kalau supervisor Korea mirip seperti supervisor di Indonesia, yang tutur katanya halus dan jarang sekali membentak. Tapi kenyataan tak seindah harapan.

Supervisor di sini sangat strict akan hasil, jadi apabila kita mempresentasikan hasil yang buruk, maka kita akan dicap gagal dan bisa dimarahi habis-habisan. Hal ini membuat banyak mahasiswa merasa lab meeting itu menakutkan, to the extent ada mahasiswa yg sengaja ngga masuk kalau ada lab meeting.

Saya sendiri sebagai foreigner, tidak pernah dimarahi oleh supervisor saya. Bukan karena hasil saya selalu bagus, tapi karena supervisor saya memang sangat menjaga perasaan international students. Ada rumor yg mengatakan bahwa Prof saya pernah dibantu oleh foreigners pada saat tersesat saat menghadiri suatu konferensi di luar negeri, dan itu membuat Prof saya sangat menghargai foreigners.

Dikarenakan perlakuan yg berbeda terhadap international student, saya jarang merasa takut saat lab meeting. Grogi sih iya, tapi ngga takut dimarahin 😂 kalau saya dimarahin seperti Prof memarahi orang korea, sepertinya saya udah lepas beasiswa ini karena merasa kerja keras saya tidak dihargai.

Pernah saya ngobrol dengan teman saya dari Thailand,”kalau aku mahasiswa korea, sepertinya aku juga akan takut untuk menghadiri lab meeting.”

Hal ini dikarenakan kebudayaan Korea memang seperti ini. Supervisor atau senior sering kali keras terhadap mahasiswa atau bawahannya. Dan saking hal ini merupakan kebiasaan, orang korea menganggap ini normal dan wajar.

Suatu ketika kami sedang lab meeting, lalu salah seorang senior kami dimarahi habis-habisan. Saya yang bisa berbahasa Korea tidak habis pikir bagaimana dia bisa mengadapi 언어 폭력 (verbal abuse) seperti itu.

Setelah lab meeting, saya beranikan bertanya ke senior saya,”Unnie (re: older sister), kamu ngga apa-apa dimarahi kayak gitu sama, Prof? Kedengerannya kasar banget.”

And then she casually replied,”It’s nothing, he wasn’t that angry.”

Saya hanya bisa terheran-heran.

Setelah beberapa percakapan, saya bisa mengerti mengapa senior saya menganggap itu biasa saja:

It’s their culture.

Photo by Jana Sabeth

Yup, ini dikarenakan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan mereka. Ditambah lagi, saya merupakan orang asing yang memiliki budaya yang berbeda, dibesarkan di lingkungan yang berbeda, dengan cara berinteraksi yang juga berbeda.

Saat saya artikan apa yang diucapkan oleh supervisor saya secara literal ke bahasa Indonesia, kalimat tersebut sangatlah kasar dan jelas akan membuat muka merah padam dan mata berair.

Namun untuk orang korea, kata-kata kasar semacam ini sudah biasa dan taraf ini bukan termasuk marah.

Di sini saya belajar, barangkali perlakuan yang berbeda terhadap foreigners juga dikarenakan perbedaan culture ini. Prof saya sepertinya bersikap hati-hati terhadap orang dengan culture yg berbeda, karena takut akan menyakiti hati kami para international students. Sebaliknya, karena beliau mengenal betul watak orang korea dan kebudayaan masyarakat disini, dimarahi seperti itu merupakan sesuatu yg biasa saja sehingga dia melakukannya.

Bahkan setelah diskusi lebih lanjut ttg hal ini dengan teman lab saya, orang-orang korea di lab saya malah menganggap ini sebagai warming up (pemanasan) sebelum benar-benar dimarahi saat bekerja kelak. Karena tingkat verbal abuse di pekerjaan jauh lebih harsh (kasar) dibanding saat di Universitas. Hm, saya jadi berpikir jangan-jangan Prof saya juga sengaja untuk melatih mental baja anak-anak Korea 😂

Anyway, saya sangat bersyukur karena prof saya orangnya bijaksana, jadi sudah memperhitungkan kalau foreigners bisa salah menangkap perkataan Prof saya apabila beliau terlalu kasar.

Banyak juga lho teman-teman Indonesia saya yg sakit hati dikarenakan Prof mereka menyamaratakan orang Indonesia dengan orang Korea. Prof semacam ini benar-benar berkata kasar sampai-sampai saya yg dengar omongannya secara ngga langsung aja miris dan ingin menangis. Beberapa ada yang ngga betah dan akhirnya berhenti dari program mereka. Sedih banget pokoknya tiap denger ada berita kayak gini. Karena kalau saya di posisi mereka, saya juga ngga akan betah dan memilih pulang ke Indonesia.

Teman-teman yg mengalami kejadian serupa… You did your best. It’s okay to give up on something that is not worth. Who knows that giving up might be a better choice?

Nah sekian dulu hari Senin saya.

Pengalaman hari Senin ini mengangkat momok laboratory meeting dan juga budaya orang korea dalam interaksi antara atasan dan bawahan (di lingkup ini adalah Professor dan mahasiswanya).

Saya berharap, sedikit sharing cerita ini bisa menambah wawasan temen-temen semuanya tentang kehidupan di Korea Selatan, terutama di bidang akademik

Yang terakhir, saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan atau ada kata-kata yang menyinggung perasaan. Saya tidak ada niat untuk buruk dalam penulisan ini.

Sampai ketemu lagi di hari Selasa!

Hari senin ini didedikasikan untuk mereka yang menjalani rough day selama di Korea Selatan, entah sebagai mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, dan sebagainya. You did well.

 

Salam,

Inna
One warm afternoon in my hometown
2019-12-02

KUPAS TUNTAS GUIDELINES GKS 2019 – Part 1

Halo! Udah lama banget aku ngga nulis posting disini tentang KGSP, biasalah sibuk ngelab biar bisa lulus. 🤣

Nah kebetulan banget karena pendaftaran KGSP 2019 udah dibuka minggu lalu, aku kepikiran buat nulis “Kupas tuntas guidelines KGSP (GKS) 2019” untuk membantu teman2 semua yg ingin apply KGSP 2019 ini.

Tapi sebelum membaca postingan ini lebih lanjut, dimohon dengan sangat untuk teman2 sudah membaca guidelines resmi yang diterbitkan di website studyinkorea.go.kr atau di website embassy korea di jakarta. Aku yakin sih udah pada baca, karena mereka udah publish sejak semingguan lalu. Bahkan mungkin ada yg udah kirim dokumen juga ya kalo rajin banget 😄

buat jaga2 aja barangkali ada yg belum baca, saya attach disini ya untuk guidelines nya, bisa langsung download aja dengan klik link dropbox dibawah ini.

GKS 2019 Application Guidelines Complete

Aku juga udah upload informasi yang tercantum di website embassy korea di jakarta dan di website studyinkorea.go.kr, jadi insyaAllah lengkap. kalau ada yang terlewatkan, bisa tolong komen di bawah langsung ya.

Yang paling penting disini adalah, guidelines dan FAQ harus dibaca dengan sangat jelas dan hati2, baca berkali2 dan dipahami bahasa inggrisnya. karena kalo dibaca sekali aja sering kadang salah karena memang aturannya agak rumit.

aku akan mulai bahas dari dokumen pertama yaa.

1. Application Guidelines

 

I. Program Objectives

Dimulai dari halaman pertama file application guidelines 2019 ini, nama KGSP udah berubah officially jadi “Global Korea Scholarship” atau GKS ya, jadi jangan ngga salah tulis KGSP di form aplikasi kalian yaa. Jangan lupa dibaca juga program objective nya, dan sesuaikan antara motivasi kalian dengan objective program GKS ini. Ini cuma saran aja sih, karena seandainya kalian ingin memberi dana ke seseorang, pasti kalian juga lebih prefer untuk ngasih ke orang yg punya visi misi sama kayak kalian kan 😄

II. Expected Grantees and III. Available Universities and Fields of Study

Lalu untuk tahun ini Indonesia kebagian total 26 awardee, 12 dari Embassy Track, dan 14 dari University Track. Untuk embassy track, ngga ada perbedaan antara mendaftar ke univ secara general maupun univ regional (maksudnya univ yang berada di daerah2). Sedangkan kalau daftar melalui university track, quota nya akan dibedakan sebagai Type A univ (univ general) dan Type B (univ general + univ regional). Jadi untuk kuota indonesia kan dapet 14, itu dibedakan lagi jadi 10 untuk Type A + Type B, lalu 4 quota dikhususkan untuk aplicants yg mendaftar ke univ regional di kolom Type B, tapi pengkhususan ini cuma untuk yg daftar di natural science and engineering major ya.

Aplikasi untuk embassy track dikirim langsung ke Kedutaan Besar Republik Korea yg ada di jakarta ya. Sedangkan untuk University Track silakan dikirim langsung ke Univ yang kalian inginkan. Nah sejak setahun atau dua tahun lalu, Korea ngasih juga beasiswa untuk program research, jadi awardee yang dapet beasiswa ini bisa ngelakuin penelitian di Korea sesuai dengan research proposal yang diajukan oleh awardee sendiri (tapi harus sudah kontak dengan supervisor di univ di korea ya).

Untuk pilihan universitas, harus di Univ yang sudah ditentukan oleh program GKS ini ya, totalnya ada 67 universitas. Mereka juga menuliskan mengenai kemungkinan penyelenggaraan kelas menggunakan bahasa Korea (karena pada umumnya masih pake bahasa Korea) jadi sangat amat sangat disarankan untuk pendaftar ngecheck dulu ke univ yang diinginkan apakah mereka punya kelas dalam bahasa inggris. Udah ditulis ya disini, jadi jangan sampe saat udah diterima GKS malah ngeluh2 karena kelasnya pake bahasa korea 😅 ngecheknya dimana? silakan dicari di web nya dulu ya, bagian kurikulum. biasanya ada tulisannya apakah lecturenya pakai bahasa inggris atau korea. kalau ngga ada, silakan tanya ke departemen masing2 atau ke OIA di univ tersebut.

IV. Eligibility

  • Kewarganegaraan dan Usia

Persyaratan pendaftar KGSP adalah ngga boleh punya kewarganegaraan Korea, lalu ngga boleh berusia lebih dari 40 tahun ya. Untuk academic professor di bawah umur 45 tahun dari Indonesia masih boleh apply.

  • Degree

Degree requirement nya standar, untuk daftar doctoral harus punya ijazah master. Untuk daftar program master harus punya ijazah sarjana atau yg setara. Untuk research program harus punya ijazah master atau yg lebih tinggi dari master (tergantung daftar programnya yg mana), dan harus dapet invitation (undangan) dari salah satu univ yg ditunjuk oleh NIIED (67 univ tadi).

Untuk yg belum punya ijazah tapi udah jelas lulus sebelum agustus 2019, bisa daftar tapi harus submit sertifikat expected graduation saat apply. Lalu ijazahnya bisa di submit sebelum agustus 2019. Kalau setelah itu masih belum bisa melampirkan, maka akan didiskualifiaksi dari scholarship ini.

Untuk kalian yg sudah dapat gelar dari univ di korea, ngga boleh daftar program ini, kecuali mereka yg merupakan korean adoptees atau dulunya dapet GKS scholars juga (KGSP). Untuk mantan GKS Scholar, syarat tambahan adalah harus ke higher degree dibanding yg sudah diambil, dan nilai GPA nya harus lebih dari sama dengan 90%. Kalau dulu cuma exchange atau visit ke korea, masih boleh daftar karena tidak ada gelar lulus dari univ di korea.

  • IPK

Persyaratan IP (GPA) atau IPK (CGPA) adalah harus punya IPK lebih dari 2.64 dari skala 4.0, ATAU percentile score nya 80% ke atas (ini maksudnya kalau scale nya ngga tercantum di guidelines maka bisa mengikuti syarat percentile). Nilai percentile bisa dilihat di appendix guidelines ya. Syarat CGPA ini mutlak sifatnya, jadi kalau dibawah 2.64 akan langsung didiskualifikasi.

  • Kesehatan

Persyaratan kesehatannya adalah harus sehat jasmani dan rohani karena di Korea berat. Kalau gampang homesick atau susah jauh dari Indonesia, coba disiapin dulu mentalnya kalau harus ngga ketemu selama 1 tahun gimana. Atau semisal gampang stress, lebih baik jangan daftar karena Korea paling bisa bikin orang yg awalnya waras jadi stress 😂 (just kidding).

Personal medical assesment itu diisi sendiri ya, namanya juga personal assesment. nanti yg ke rumah sakit itu kalau udah lulus tahap 2 yg dari NIIED. Jadi di tahap awal ini ngga perlu ke RS. Kalau udah lulus tahap 2 tapi ternyata ada positif narkoba atau kena sakit yang parah banget ampe ngga bisa study di korea, maka awardee akan didiskualifikasi.

  • Yang ngga boleh daftar

Mereka yg sudah dapat gelar dari korea ngga boleh daftar ya. Dan yg udah pernah jadi GKS scholar tapi mengundurkan diri juga ngga boleh daftar. Terkecuali untuk yg resign karena ngga lulus topik 3, itu boleh daftar lagi dengan syarat punya topik 5 keatas.

  • Preference

Untuk yang punya language proficiency Korea (TOPIK) atau English (TOEFL, TOEIC, IELTS) lebih diutamakan ya. Selain itu ngga akan diterima, termasuk TOEFL ITP.

Ada preferensi juga untuk yg majornya natural science dan engineering. semisal ada dua kandidat dengan nilai sama, yg satunya dari MIPA dan satunya dari Humaniora, maka ada preference untuk pilih yg MIPA.

Mereka yg berasal dari keluarga dengan pendapatan rendah dan berasal dari daerah2 juga akan dapat preferensi.

V. Required Documents

Kalau yg ini insyaAllah sudah jelas ya dari table yg disajikan di guidelines. Semoga ngga ada yg nanya lagi apakah wajib menyerahkan sertifikat bahasa apa engga 😅

Note (WAJIB DIBACA):

  • Semua yg berbahasa selain inggris atau korea, wajib ditranslate dan dilegalisir oleh institusi yg membuat dokumen tersebut atau ke notaris. semisal akta kelahiran, bisa ditranslate di dispendukcapil dan dilegalisir disana langsung (bener ga ya? agak lupa), jadi ngga perlu dinotariskan. Kalau dokumennya di sworn translate karena institusi yg mengeluarkan ngga bisa menerjemahkan, berarti harus difotokopi dan dilegalisir oleh notaris.
  • Semua dokumen yg difotokopi harus dinotariskan ya. Saya kurang jelas juga apakah legalisir dari universitas sudah cukup apa belum, tapi kalau baca dari guidelines sepertinya harus notaris. saya dulu untuk jaga2 jadi dua cap, universitas dan notaris. tapi setahu saya notaris saya sudah cukup.
  • Dokumen ngga akan dikembalikan. jadi jangan submit yg asli ya.
  • Dokumen harus dimasukkan sesuai dengan urutan dari nomer satu yg paling depan, sesuai dengan checklist form nya. terus di tiap dokumen bagian pojok kanan atas ditulis nomer dan label nya, misal 9. Certificate of Bachelor’s Degree. Kalau di aturan embassy Korea di Indonesia, dokumen ngga boleh dimasukkan ke clear file (map plastik transparan) ya. dulu saya sih cuma beli label aja dan tulis tangan. Kalau ada yg mau di ketik juga jauh lebih baik. Ada teman saya yg ngeprint langsung di masing2 dokumennya, tapi katanya harus dicoba2 dulu supaya ngga ngeprint diatas informasi dokumen.
  • kalau belum lulus tapi sudah jelas akan lulus sebelum agustus 2019, boleh submit Certificate of Expected Graduation saat apply ya. Lalu ijazahnya tinggal di submit saat sudah dapat, sebelum 31 agustus 2019. yg perlu diperhatikan adalah, kalian harus tanya dulu ke jurusan apakah ijazahnya boleh dikirim ke korea apa engga. karena kasusnya teman saya anak UI, mereka harus pulang lagi ke indonesia dan ngambil langsung ijazahnya (waktu itu kalau ngga salah krn graduation di indonesianya setelah mereka berangkat ke korea).
  • Embassy track >>> harus kirim 1 set formulir aplikasi original, dan 4 recommendation letter. Tahun ini embassy tidak mensyaratkan 3 kopian dari application form
  • University track >>> harus kirim 1 set formulir aplikasi original.

Karena tiap program requirement nya beda, saya ngga bisa bahas satu2. tapi pada intinya yang harus dikumpulkan adalah:

  1. Form aplikasi >>> diketik dan pakai bahasa inggris. ngecheck nya pakai ya, bukan contreng.
  2. Personal statement >>> udah ada penjelasannya suruh nulis apa di personal statement. intinya motivasi daftar GKS, pengalaman kerja atau pendidikan yg berhubungan sm apply program ini, alasan belajar di korea, dan hal2 lain yg sekiranya bisa mendukung aplikasi kamu (semisal pernah ada pengalaman exchange, atau presentasi akademik, atau ikut suatu program). Jangan lupa dibaca perintah nya baik2 ya, misal harus single spacing dan cuma 1 halaman aja.
  3. Statement of purpose >>> isinya goal of study & study plan, dan future plan setelah lulus dari program GKS ini. In summary, kalau saya dulu bikin dengan penjabaran per semester (untuk study plan), sedangkan untuk future plan saya jabarkan secara short term dan long term. kalau yg ini sebenernya kreatifitas dari applicant aja jadi ngga harus juga dijabarkan seperti saya. Yang penting penyampaian nya mengena di hati reviewer aja hehe. Untuk statement of purpose ngga boleh lebih dari 2 halaman ya. Saya dulu hanya 1 halaman totalnya. Semakin panjang belum tentu semakin bagus, yg penting dapat point nya saja karena kalau kepanjangan nanti kasian yang baca 😅
  4. Research proposal >>> KHUSUS UNTUK YG DAFTAR RESEARCH PROGRAM. Ini saya juga kurang tau harus bagaimana menulisnya, tapi kira2 seperti nulis proposal saat skripsi dulu mungkin ya. Dan setahu saya yg ini harus sudah ada kontak dengan prof di Korea. Saya dulu pas apply AAS (australia) juga sistemnya adalah kontak prof dulu, nunggu dibales, trs tanya kira2 bisa penelitian tentang apa disana (atau kalau sudah riset ttg prof nya, berarti bisa langsung aja bilang mau penelitian tentang apa), lalu jika prof sudah setuju, baru coba dibikin. dan setelah selesai, kirim dulu balik ke prof untuk di check apakah sudah sesuai atau belum (dulu saya gitu sih). nah kalau sudah fiks semua baru bisa dimasukkan di form pendaftaran.
  5. Surat rekomendasi >>> DUA BIJI YA teman2, harus dari dua orang berbeda yang bisa menilai kemampuan akademik kalian. Saran saya sih supervisor skripsi (DPS) dan supervisior akademik (DPA). Syarat ini agak ribet menurut saya karena tiap pemberi rekomendasi harus ngeprint dan fotokopi 3 kali, dan ditandatangani satu2 suratnya (total berarti ada 4 copies ya, 1 original hasil print2an dan 3 fotokopian). lalu suratnya dimasukkin ke official envelope (dulu saya engga, sepertinya ini aturan baru. official envelope mungkin bisa minta ke jurusan kali ya), dan ditandatanganin di bagian belakang (batasan flap nya, jadi ketahuan kalau dibuka apa engga). Jangan lupa suruh ditandatanganin ya, nanti ngga diterima.
  6. Letter of Invitation >>> KHUSUS RESEARCH PROGRAM. ini bisa minta diisi oleh petugas atau supervisor di departemen atau universitas yang kalian tuju. Jadi kalau research program emang wajib ngontak supervisor di korea ya teman2.
  7. GKS Applicant Agreement >>> surat kontrak, dibaca baik2 ya supaya ngga ada masalah saat di Korea. salah2 bisa di keluarin dari program GKS lho teman2.
  8. Personal medical assesment >>> isinya tentang pernyataan secara pribadi tentang kesehatan anda dan penyakit2 yang pernah diderita. ngga perlu ke dokter ya untuk mengisi ini, sudah jelas di penjelasannya.
  9. Ijazah S1 >>> Original ya teman2. Ini bukan berarti ngirim asli, cukup difotokopi lalu dinotariskan. Kalau ngirim asli nanti ngga balik ijazahnya 😂
  10. Transkrip S1 >>> Original juga.
  11. Ijazah S2 >>> untuk program doctoral dan research. Original.
  12. Transkrip S2 >>> untuk program doctoral dan research. Original.
  13. Ijazah S3 >>> khusus program research yg postdoctoral. Original.
  14. Transcript S3 >>> khusus program research yg postdoctoral. Original.
  15. Sertifikat kerja >>> khusus program research yg postdoctoral. Original.
  16. Proof of citizenship >>> bisa passport atau akta lahir, bahasa inggris ya. untuk akta bhs inggris bisa minta ke dinas kependudukan dan pencatatan sipil di kota anda.
  17. Proof of parent’s citizenship >>> Kartu Keluarga yg sudah di translate ke bahasa inggris, difotokopi, lalu dilegalisir oleh notaris. Kalau bisa ngga perlu KTP, karena kalau KTP kan berarti harus translate 2 document KTP jadinya akan lebih mahal.
  18. Proof of Overseas Korean Document >>> khusus overseas Korean
  19. Proof of Korean Citizenship Renunciation Document >>> khusus yg dulu pernah jadi orang Korea
  20. Proof of Korean Adoptee Document >>> khusus orang korea yg diadopsi di luar negeri
  21. Sertifikat TOPIK >>> hanya opsional, ngga wajib disertakan, tapi kalau punya akan menambah nilai. Harus yg masih valid ya.
  22. Sertifikat Bahasa Inggris >>> hanya opsional, ngga wajib disertakan, tapi kalau punya akan menambah nilai. Harus yg masih valid ya. hanya bisa IELTS, TOEFL, atau TOEIC. tidak menerima TOEFL ITP atau test2 prediksi lainnya.
  23. Publikasi, research paper, dkk >>> buat yg pernah publikasi, bisa dimasukkan di section ini. saya dulu masukkan abstract skripsi saya dan juga poster presentation dalam bentuk print A4 berwarna.
  24. Awards >>> kalau yg pernah dapat penghargaan yg sekiranya mendukung aplikasi kalian, maka bisa disertakan. semisal ndaftar program engineering tapi dapet award di bidang fotografi? terserah aja, asal bisa dijelaskan relasi award itu terhadap study kalian di engineering kelak. Misal pernah ikut PKM dan sampai dapat penghargaan, maka bisa dimasukkan juga.
  25. Passport copies >>> setelah lulus tahap 2
  26. Medical examination >>> setelah lulus tahap 2. Ini agak merogoh kocek ya teman2, saya dulu habis 1.5 juta sepertinya untuk ini saja. (masih belum ditambah test bahasa inggris dan legalisir dokumen yg banyak banget 😭)

saya tulis sampai segini dulu ya, insyaAllah besok lanjut lagi. Ini saya post terlebih dahulu supaya bisa dibaca2 dulu^^